Kamis, 20 Desember 2012

......................

ya Robbi......
Ingin hamba rasanya berjumpa denganMu, mengeluhkan semua yang hamba rasakan. Dengan siapa lagi hamba patut bercerita ya Robb?Bukannya hanya kepadaMu...

ya Robb....aku benar-benar tidak ingin membuatnya marah. Bantulah ia tu' memahami. Aku hanya cemburu,cemburu pada orang-orang yang senantiasa berada di jalanMu. Bagaimana dengan aku?? Begitu banyak dosa yang hamba buat? Inikah khilaf?
BUKAN!!!!
Aku melakukannya dengan sengaja, dan bagaimana aku mampu menanggung dosa ku? Bahkan aku pun seperti mengajak oranglain, mengajaknya untuk melakukan halyang sama. Mana Izzahku sebagai wanita?
Ya Robbi.....aku menangis karenaMu, bukan karenanya. Aku ingin mencintainya karenaMu. Bersamanya karenaMu, berpisah dengannya juga karenaMu. Bukan bersembunyi dariMu.
Ya Robbi.....

Selamat Hari Ibu, Bundaa....


Memulai hari di kala fajar menyapa
Begitu hangat….sehangat senyuman Bunda menyapaku

Meski aku tak begitu mampu mengingatnya
Ini ceritaku untuk Bunda

Aku hanyalah bayi mungil,5 tahun yang lalu…
Yang hanya mampu menangis sepanjang waktu
Dari pagi hingga petang dalam pangkuanmu
Merengek, meronta tak tentu…
Bunda, namun kau tetap tersenyum
Sambil menatap dan mengamati wajahku yang terus menangis
Namun, kau tetap bilang “aku lucu”

Bunda, satu tahun berlalu
Aku mulai berjalan
Mungkin kau berharap aku tak lagi membebani tubuhmu
Ternyata tidak juga Bunda
Aku mungkin justru semakin membuatmu khawatir
Berjalan hingga jauh dari dekapanmu
Menghilang di sela-sela waktu tidurmu
Ohh..Bunda, kau masih juga tersenyum…

Bunda, kini aku sudah 5 tahun
Berharap mampu mandiri dengan segala keakuanku
Mampu sholih seperti para pendahuluku
Mampu mengenal dunia dengan kecerdasanku
Bunda…
Maaf untuk salah dan khilaf
Semoga mampu membuatmu semakin kuat dan bersabar
Terimakasih bunda…
Untuk pengasuhanmu
Untuk segelas susu yang setiap hari kau siapkan
Untuk nasi goreng spesial yang setiap hari kuminta
Untuk dongeng sebelum tidur yang tak bosan kau ceritakan

Bunda, do’aku untukmu
Semoga Allah selalu menjagamu dalam setiap langkah
Dan kelak, kita berjumpa kembali di sana
Di taman surga bersama keluarga kita tercinta

~Selamat Hari Ibu, Bunda~
I LOVE YOU

Sabtu, 08 Desember 2012

Senandung Cinta Untuk Bunda


Bunda, langitku sedang bahagia
Bila mampu kau lihat, ia sedang berbagi lewat tetesan-tetesan hujannya yang menyejukkan hatiku
Mengingatmu di kala hujan, membawa kedamaian dan kehangatan…
Sehangat pelukan mesramu

Bunda, hatiku sedang terbaring lemah
Berjarak raga dengan engkau nun jauh di sana
Aku butuh dekapanmu kini….
Sambil mendengarkan senandung lagu yang kau bisikkan di telingaku…
Meninabobokkan tidur lelapku
Menyemai mimpi-mimpi dalam bayang nyatamu

Bunda, aku rindu dengan aroma teh tubruk pagi itu
Kau sajikan panas-panas bersama sepiring singkong rebus dari kebun belakang rumah
Bersama kicauan burung gereja, kita bercanda
Mengeja gurauan fajar yang baru menyingsing di ufuk timur

Bunda, ingatkah 20 september waktu lalu?
Ketika aku malu-malu membawakan sebuah bingkisan kecil untukmu
Hatiku berdegup kencang
Tak biasanya aku menghadapmu dengan wajah yang kaku
Dan aku makin tersipu
Ketika Bunda mengatakan, “Kado buat Bunda?”

Bunda, 24 tahun aku mengenal dunia
Menjejaki tiap lika-liku perjalanan
Ada suka yang membuat tawa
Tak jarang nestapa membuat derita
Namun Bunda,  taukah engkau?
Perjalanan ini terasa masih menyenangkan
Karena kau masih saja berdiri di depanku
Memberi arah yang tak pernah salah
Kau masih saja di sampingku
Mengawal dari bisikan-bisikan yang menjerumuskan
Kau tetap di belakangku
Menguatkan dari rasa lelah dan kalah…..

Bunda, jelas masih terasa …
Do’amu yang selalu tulus teriring
Berbalut nada-nada penuh cinta
Mampu menjagaku kini…
Dalam perjalanan hidupku di tanah perantauan…

Untukmu Bunda…
Senandung cinta dari ananda.

Gubuk Mentari
8 Desember 2012


Senandung Cinta Untuk Bunda


Bunda, langitku sedang bahagia
Bila mampu kau lihat, ia sedang berbagi lewat tetesan-tetesan hujannya yang menyejukkan hatiku
Mengingatmu di kala hujan, membawa kedamaian dan kehangatan…
Sehangat pelukan mesramu

Bunda, hatiku sedang terbaring lemah
Berjarak raga dengan engkau nun jauh di sana
Aku butuh dekapanmu kini….
Sambil mendengarkan senandung lagu yang kau bisikkan di telingaku…
Meninabobokkan tidur lelapku
Menyemai mimpi-mimpi dalam bayang nyatamu

Bunda, aku rindu dengan aroma teh tubruk pagi itu
Kau sajikan panas-panas bersama sepiring singkong rebus dari kebun belakang rumah
Bersama kicauan burung gereja, kita bercanda
Mengeja gurauan fajar yang baru menyingsing di ufuk timur

Bunda, ingatkah 20 september waktu lalu?
Ketika aku malu-malu membawakan sebuah bingkisan kecil untukmu
Hatiku berdegup kencang
Tak biasanya aku menghadapmu dengan wajah yang kaku
Dan aku makin tersipu
Ketika Bunda mengatakan, “Kado buat Bunda?”

Bunda, 24 tahun aku mengenal dunia
Menjejaki tiap lika-liku perjalanan
Ada suka yang membuat tawa
Tak jarang nestapa membuat derita
Namun Bunda,  taukah engkau?
Perjalanan ini terasa masih menyenangkan
Karena kau masih saja berdiri di depanku
Memberi arah yang tak pernah salah
Kau masih saja di sampingku
Mengawal dari bisikan-bisikan yang menjerumuskan
Kau tetap di belakangku
Menguatkan dari rasa lelah dan kalah…..

Bunda, jelas masih terasa …
Do’amu yang selalu tulus teriring
Berbalut nada-nada penuh cinta
Mampu menjagaku kini…
Dalam perjalanan hidupku di tanah perantauan…

Untukmu Bunda…
Senandung cinta dari ananda.

Gubuk Mentari
8 Desember 2012


Jumat, 07 Desember 2012

Entah

Mengejar Mimpi......
Kini...tak tahu lagi dimana
Harapan, angan, cita-cita, sudah di depan mataku...
Namun sulit merengkuhnya dalam satu waktu
Semuanya terasa semakin semu
Dan aku makin merasa jemu
Bosan dengan keadaan ini...
Entah..

Entah...
Mimpi itu timbul tenggelam
Diterjang badai kegalauan yang tak henti menerpa
Aku merasa malu mengaduh pada Tuhan
Karena "entah" ini sudah kupahami..

Entah, hingga kapan lagi
entah, aku akan berkata entah
Hingga entah itu jauh dariku
Entah...kapan itu...

Jumat, 30 November 2012

Janji Allah yang tiada pernah dusta

Cerita Cahaya...

Rabu, 28 November 2012
Aku bekerja hingga larut malam hari itu. Sebenarnya juga tak begitu larut namun bila dibandingkan dengan teman-teman asramaku yang lain aku yang paling malam tiba di rumah pasti. Sepulang dari tempat kerja pukul 5 sore aku langsung bergegas menuju ke tempat kerjaku selanjutnya. Ini sekedar kerja part-time, ya lumayanlah mengisi kekosongan dan kanotong. Heheee....
Lebih dari itu, aku sangat suka pekerjaanku ini. Sembari mengingat masa lalu dan merasa menjadi orang yang bermanfaat. Maka sedihnya ketika aku bekerja dengan setengah hati karena kelelahan.

Hari itu temanku milad, teman satu asramaku. Spesial pasti baginya hari itu seperti yang aku rasakan ketika tanggal 14 februari tiba. Terlintas untuk memberikan sebuah hadiah untuknya. Namun...ya Robb...aku benar-benar sedang tak banyak simpanan. Dan bilapun ada aku sedang menanbung, merencanakan yang lainnya. Bagaimana ini?? Entahlah...tanpa ada hitungan lagi aku langsung berbelok ke tempat yang lain sepulang dari tempat kerjaku yang kedua.

Sekitar pukul 8 aku naik angkot yang berlawanan dengan arah asramaku. Hmm....apa ya? aku pun bingung harus memberikan apa?Ketika aku sedang berada di dalam angkutan itu, aku melihat ada sebuah toko berisi boneka. Yap...mungkin ini alternative pilihan yang baik. Akhirnya aku turun. Aku langsung ke toko tersebut dan melihat-lihat boneka di dalamnya. Tidak banyak pilihannya memang, hanya ada 4 jenis. 2 basah terkena hujan..yach...kecewa...

Diantaranya keduanya, aku tak ada yang suka. Hmm..bagaimana ini, pikirku. Kuputuskan untuk memilih salah satu boneka yang sejatinya aku juga tidak suka. Apapun itu,aku ambil. Kutawar-tawar tak bisa juga padahal keadaan finansialku sedang pas-pasan. Tapi tidak apa-apa,kupersembahkan ini karena Allah. Mencintai saudaraku karena Allah.

Akhirnya kuberikan juga boneka itu. Entah dia suka atau tidak, kuharap suka. Namun dari ekspresinya, ia bahagia... ^_^
Selesailah perkara hadiah,aku bahagia.

29 November 2012
"Bu....sedang sibuk?"
"Tidak....ada apa,pak?"
"Ini...ada yang mau saya kasih. Kemarin saya mendapat apresiasi dari sekolah terkait video yang waktu itu. Hmm...sebenarnya saya malu mau kasihnya bu karena gak seberapa."
"Apa pak maksudnya,pak?"
"Ini, mohon diterima."
"Ohh..gak usah pak..."
"Saya lempar nanti kalau gak mau"
"Udah...saya gak bantu apa-apa kok, buat anaknya saja"
"Tolong diterima bu..."

Akhirnya, aku menerima juga. Setelah kubuka, subhanallah....
Nilainya hampir sama dengan harga boneka itu. Ya Robb...ini kedua kalinya aku secara sadar merasa menerima sebuah pembalasan rezeki dariMu. Baru kemarin aku mengeluarkan, langsung Kau ganti dengan yang serupa. Belum lagi nilai di akhirat nanti.

Inilah kisah indahku selama perenunganku berlangsung. Entah....keajaiban-keajaiban apa lagi yang akan aku peroleh di setiap harinya.....
Janji Allah..tak kan pernah dusta kepada hambaNya.

Saung elang
30 November 2012

Perenungan

Benar adanya, hidup ini hatilah yang berbicara. Sejauh mana kau melangkah bila hatimu tidak kau ikutsertakan maka semua akan terasa hampa.
Hidup butuh perenungan sejenak, instropeksi dan koreksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan. Belum satu minggu ini, aku dalam lautan itu. Lautan perenungan. Awalnya aku terombang-ambing, merasa harus kembali ke tempat semula. Tapi inilah proses itu, sebuah proses dahsyat dalam sebuah perenungan terhadap Robbku. Perenungan tentang makna hidup. Tentang sebuah sebab akibat atas segala perilaku kita.

Kembali ke masa itu, 2 tahun yang lalu ketika semunya dimulai. Aku akan memulai seperti apa? sebuah rencana indah kubuat di kalaitu dengan tanpa adanya gesekan dari pengaruh manapun. Rencana indah yang kan kupersembahkan kepada Tuhanku juga kedua orangtuaku tersayang. Sebuah rencana yang bernilai ibadah tentunya. Bahkan bila waktu itu ku ampu berbicara pada langit mungkin ia akan segera melukis pelangi melihat kebahagiaanku. Bila bumi tahu akan maksud hatiku kala itu mungkin ia akan mengajakku bermain dengan keindahan alamnya.

Namun, hanya aku dan Robbku yang tahu. Saat itu, aku tak tahu tentang perenungan ini yang akan kujumpai setelah 2 tahun berlalu meskipun awalnya aku akan menduganya.
Sebuah perenungan akan sebab akibat perbuatan kita.
Perenungan ini,perenungan yang harus merubah kita menjadi pribadi dan insan yang menuju kesempurnaan.
Sebuah perenungan....

30 November 2012
Saung Elang.