Jumat, 02 November 2012

Tuhan Sembilan Senti

(Taufiq Ismail)
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

sumber : 

Jum'at barokah

Sejauh apa kau memandang langit, sejauh itu pula tinggi anganmu.
Jum'at pagi yang tiba-tiba ada sesuatu yang menggerakkan langkah ini menjadi terpacu lebih cepat. Melihat segala hal menjadi satu. Tak ingin melihat hal yang tak berguna, tak ingin membiarkan hal berntakan tanpa ada ujungnya.
Jum'at yang memang penuh semangat...

Pagi ini membaca Firman Allah yang begitu istimewa dan mengena di hati
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” .
(Qs. Ali Imran: 110).
Subhanallah....Begitu istimewanya terlahir sebagai manusia. Makhluk Allah terbaik yang diciptakan untuk seluruh makhluknya. Namun selama ini jiwa dan raga ini tak merasa menjadi yang paling spesial. Masih saja melakukan hal-hal tak berguna demi kesenangan duniawi. Masih saja mencari perhatian dari makhluk lain yang sebenarnya amat sangat biasa. Bagaimana bila dibandingkan dengan Allah, Robbku yang menciptakan?
Ya Robb...begitu hinanya kami di hadapanMu.

Jum'at semangat penuh barokah. Semoga 'kan menjadi jum'at yang bermanfaat. Amiin..

Selasa, 30 Oktober 2012

Rapuh

Tak ada lagi kata yang tereja
Terkikis oleh duka yang kini melanda
Semilir udara malam ini
Tak berarti...
Ia seperti hilang
Menghilang....
Jemariku masih menari
Bercerita tentang aku
Tentang arti aku dan perjalanan
Tentang Fajar pagi yang biasanya selalu kuharap tawa
Tentang malam yang berhimpun dengan mimpi dan do'a
Tentang jejakku yang terseok, berduri
Tentang langkahku yang tertatih di lautan api

Ini hidup
Tak sejatinya berharap bahagia meski ia ada

Jiwa dan raga selalu berpadu
Diantaranya tak tersekat oleh ruang dan waktu
Namun tak begitu adanya dengan aku dan kamu
Aku tetap akan di sini hingga waktuku habis dengan bosannya mengingatmu
Karena keindahanmu kini hanyalah semu

Jemariku masih menari
Bermain dengan alam bawah sadar yang kian mempermainkanku
Sampai batas mataku sayu
Namun tak percaya jua aku padaku
Karena..
Selalu...begini adanya

Hari semakin merajut malam
Angin dingin menemani jemari kecilku menari
Melewatkan cerita yang ingin kubagi
Tentang kesendirian kini yang melanda
Tentang arti kepercayaan dan kesetiaan
Meski raga makin lama makin tak peduli

Aku berkhidmat pada jemariku
Jemari yang kian menari dengan tak tentu
Melawan arah yang sejatinya kulawan
Menolak semua bentuk keluhan yang seharusnya tak ada
Namun emosi dan hasratku tak terbendung
Ia tetap menari
Bahkan tak jelas lagi apa yang dikatanya

Kini
Tak ada lagi pola
Tak lagi bernada
Takjua berbentuk
Ragaku sedang rapuh

Aku terhenti di hari ini. Entah...beribu kata yang berada di kepalaku tertahan. Inginnya menumpahkan rasa namun apa daya. Hanya raga ini yang mampu berbicara melalui tindaknya yang sudah tak biasanya. Aku lemah kini...benar,kurasa itu.
Aku bagaikan bermain dengan ombak yang tiada hentinya. Ia serasa melemparku ke tengah lautan, dihempaskannya aku ke tepian, diseretnya kembali, begitu...dan begitu seterusnya.

Kemarin,aku merasa kuat. Bahkan mungkin aku lebih kuat dari batu karang. Namun kurasakan kini aku terhempas tak berdaya. Untuk menangis pun tak tau apa yang harus ditangisi...
Ohh...Robbi....

Aku berjalan dengan kaki yang kini tak bisa lagi tegak. Dengan mata yang pandangannya tak lebih dari 2 meter kugapai. Dengan raga yang tak mampu lagi berlari kencang. Separuh jiwaku sedang berkelana dan entah kapan ia kembali. Kapan lagi separuh ragaku percaya pada hidupku yang kini tak lagi seindah pelangi.
Tak ada pelangi di bola mataku, karena semuanya terasa kosong dan hampa...

Ya Robbi...kemanakah dosa-dosaku akan kutebus? Alam semesta dan seisinya kugadaikan pun tak mampu rasanya mengembalikan itu semua. Ya Robbi...tak kuasa hamba membawa jiwa dan raga yang tak ada harganya ini. Dengan apa hamba mengembalikan diri di hadapanMu ya Robbi...

Ya Robbi..masih adakah waktu untuk hamba kembali padaMu? Dengan tumpukan sampah di badan hamba yang amat menjijikkan. Ya Robbi...malu rasanya hamba menuliskan ini. Menuliskan kepedihan, kegelisahan, dan kenistaan makhlukMu yang hina ini...

Ya Robbi....kuatkanlah langkah hamba. Istiqomahkanlah....

Kamis, 18 Oktober 2012

Hidup - Mati

Tak hidup
Bila tak bergerak
Tak jua mati
Bila tak bergerak
Tapi hidupmu akan mati
Bila tak jua bergerak
Karena hidup kau akan mati
Dan karena mati, kau akan hidup kembali
Dan matimu bukan karena hidupmu
Namun matimu karena kau hidup
Dalam hidupmu kematian menantimu
Dalam kematian hidup jua menunggumu
Hidupmu...
Matimu....
Di tangan Robbmu..

Selasa, 11 September 2012